Postingan

Tradisi Melayu Bengkalis, Gemerlap Lampu Colok Menyambut Idul Fitri

Gambar
Lampu Colok di Desa Pangkalan Batang, Bengkalis Pengaruh agama Islam yang melebur dalam kehidupan masyarakat mampu melahirkan beragam tradisi dan budaya khususnya dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Menjelang hari raya Idul Fitri ada banyak cara masyarakat menyambut dan memeriahkannya dengan penuh sukacita.  Masyarakat Melayu Bengkalis di Riau misalnya, sudah berpuluh-puluh tahun langgeng dengan tradisi Festival Lampu Colok yang digelar setiap malam tujuh likur atau malam 27 Ramadan. Lampu colok merupakan lampu pelita tradisional yang biasanya disusun menyerupai bentuk Masjid. Tradisi ini menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh Islam pada masyarakat Melayu Bengkalis. Dahulu lampu colok digunakan oleh masyarakat Melayu Bengkalis sebagai penerang jalan karena belum tersedianya listrik. Terlebih saat bulan Ramadan tiba, lampu colok disusun di jalan sebagai penerang menuju Masjid ataupun Surau.  Hingga kini kebiasaan menyalakan lampu colok masih eksis dan lestari saat bulan Ramada...

Mengenal Indonesia Lewat Cerita dan Gurauan, Tongkrongan Anak PMM 3

Gambar
Penghuni Pondok Kita bersama Kang Alan saat Malam Keakraban Tak bosan para anak lelaki penghuni Pondok Kita selalu bertukar cerita mengenai daerah asalnya. Setiap topik obrolan pasti ada saja alur yang menyeret anak-anak lelaki itu untuk kembali menceritakan daerahnya. Cerita-cerita yang kadang dikemas serius, kadangkala juga dikemas renyah dengan gelak tawa.  Padahal sudah hitungan bulan, mereka termasuk aku berbagi cerita di bangunan kosan berlantai tiga itu. Tapi keunikan daerah masing-masing seakan tabungan yang tak pernah habis untuk diceritakan dalam setiap topik-topik obrolan. Di mulai dari cerita tentang awal ketibaan kami di Jatinangor, betapa kami saling mengeluh akan suhu Jatinangor yang lebih dingin dibandingkan daerah asal kami di Sumatera, Bali, Sulawesi dan Papua. Kami mengeluh sambil saling adu nasib betapa panasnya daerah asal kami. Yahya dengan ceritanya tentang kota Palu di Sulawesi Tengah yang panas pun dengan lucu menyeletuk. "Eh, kalian kalau mau tau panasnya...

Cerita PMM 3: Warna-warni Keberagaman, Festival Budaya UNPAD Pecah!

Gambar
Gebyar Budaya: Wonderfull of Nusantara Pagi sekali tampak lelaki di cermin berbusanakan serba kuning hijau. Penuh percaya diri mengenakan busana yang disebut Cekak Musang dengan Tanjak di kepala serta Songket yang melilit di pinggang. Apa yang dikenakan merupakan identitas budaya kebanggaan masyarakat Melayu Riau. Lelaki itu adalah aku yang bersiap untuk perayaan Festival Budaya PMM 3 Universitas Padjadjaran. Bertepatan hari sumpah pemuda, menembus pagi dan berlaga dengan ayam yang baru terbangun dari lelapnya, aku berjalan menyongsong semangat dan energi muda. Sepanjang jalan aku dipandangi oleh orang-orang, pikirku mereka heran dan asing dengan apa yang aku kenakan. Aku lantas mempercepat langkahku, bukan karena malu menjadi sorotan tetapi aku punya tanggung jawab sebagai panitia dalam acara tersebut. Sialnya odong yang akan mengantar jemput peserta Festival Budaya belum tersedia pagi itu. Alhasil aku harus berjalan kaki mendaki jalanan UNPAD yang menanjak sampai ke Lapangan Merah te...

Cerita PMM 3: Sudah Jangan ke Jatinangor, Nanti Kamu Terlanjur Nyaman

Gambar
Penghuni Pondok Kita di Jans Park "Sudah Jangan ke Jatinangor" Melangkahkan kaki menembus batas ragu. Menempuh berkilo-kilo jarak, hanya untuk ke Jatinangor. Apa istimewanya kota ini? Apakah seperti Jogja yang kerap diromantisasi keistimewaan budayanya? Atau Bandung dengan puisi-puisi Pidi Baiq? Entahlah, yang jelas ada kebanggaan serta mimpi di Jatinangor, tepat di kampus biru dongkernya. Manusia Yogi Jatinangor, 26 Agustus 2023 Banyak hal manis di Jatinangor, banyak juga hal pahit atau bahkan hambar. Tak terasa tulisan di atas yang ku tulis tepat saat awal menginjakkan kaki di Jatinangor sudah akan menjadi kenangan. Sebab tak kurang dari sebulan lagi akan meninggalkan kota ini. Jatinangor dan segala ceritanya terbingkai dalam benakku. Berat rasanya berpisah dengan tempat ini. Ada nasi goreng Mama Kukus yang masih ingin ku coba, Kantin Jatinangor tempat makan favorit, Pujasera tempat nongkrong murah meriah, Jatos tempat melepas setres dan banyak tempat lainnya. Kalau bukan k...

Cerita PMM 3: Menelisik Mitos Batu Cinta di Situ Patenggang

Gambar
Tepian Situ Patenggang Dalam bahasa Sunda situ berarti danau, sementara patenggang berasal dari kata “pateang-teangan” yang berarti saling mencari. Konon Situ Patenggang merupakan keinginan dari Dewi Rengganis, kekasih Ki Santang. Bermula ketika pasangan ini terpisah sekian lama dan saling mencari, hingga dipertemukan kembali dan Dewi Rengganis meminta pada Ki Santang untuk dibuatkan danau beserta perahunya. Tempat bertemunya sepasang kekasih ini berlokasi di Batu Cinta yang terdapat di Pulau Asmara di tengah-tengah Situ Patenggang. Mitosnya lagi jika sepasang kekasih mengelilingi Batu Cinta, maka hubungannya akan awet alias langgeng. Terlepas dari segala mitosnya, Situ Patenggang merupakan tempat cantik yang dikelilingi oleh perkebunan stroberi dan teh. Di sana kami menikmati makan siang di tepian danau dengan pemandangan alam yang menyejukkan mata. Selesai makan siang kami pun menyusuri danau dengan menyewa perahu yang didayung oleh masyarakat lokal menuju Batu Cinta. Sayangnya ...

Cerita PMM 3: Harmoni Keberagaman di Saung Angklung Udjo

Gambar
Angklung di Saung Angklung Udjo Sabtu (30/ 09) usai dari Museum Geologi Bandung, kami menuju ke destinasi terakhir, Saung Angklung Udjo. Aku rasa ini benar-benar destinasi terakhir yang paling menyenangkan diantara semua destinasi yang sudah kami kunjungi selama kegiatan Modul Kebhinekaan. Begitu sampai di Saung, kami lantas mengambil tempat untuk makan siang dahulu. Menu makan siang ini benar-benar memperbaiki gizi kami sebagai anak kosan, ada ayam, daging, sayur dan buah. Biasanya aku di kos hanya makan mie instan ataupun makanan sembarangan tanpa memperhitungkan kandungan gizinya, selagi itu membuat perut kenyang. Usai makan siang kami lanjut untuk mengambil tempat duduk di balai utama. Aku dan teman-teman kelompokku duduk di barisan paling belakang. Di tempat itu, kami diajak menyaksikan kebudayaan Sunda dan Nusantara. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan diiringi alunan alat musik angklung, sungguh indah sekali. Kemudian MC yang memandu acar...

Cerita PMM 3: di Museum Geologi Cerita Kita Terpatri

Gambar
Sabtu (30/ 09) merupakan kali keduaku berkunjung ke Museum Geologi Bandung. Saat kunjungan pertama, aku melihat pameran fosil manusia purba Sangiran. Kali ini aku berkunjung lagi untuk memenuhi kegiatan terakhir Modul Kebhinekaan PMM 3 Universitas Padjadjaran. Sebenarnya aku merasa biasa saja untuk berkunjung ke sana, sebab aku sudah lebih awal mengetahui isi dari museum tersebut. Namun, ada satu hal yang membuatku bersemangat hari itu, akan ku ceritakan di paragraf bawah. Perjalanan dimulai pagi sekali, berangkat dari kampus UNPAD menuju museum dengan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Bis yang kami tumpangi tidak seperti bis biasanya, bis kali ini dengan fasilitas yang apa adanya dan tidak selengkap bis minggu-minggu sebelumnya. Ditambah pada saat hendak berangkat, bis kami secara tiba-tiba membuat terkejut dengan mundur dan mengerem mendadak. Sontak seiisi bis menjerit kaget dan takut. Dengan nada panik kami berucap,  “pelan-pelan pak sopir,”  ada juga yang berucap ...